with his work

Sunday, September 22, 2019

Mencoba Untuk Digital


Read More

Monday, July 29, 2019

Dendam Dari Neraka Ke Tujuh


                    Seni merupakan manefestasi dari ungkapan yang terdalam dari rasa yang yang yang tertuang dalam media  kreativitas dari sang kreatornya, untuk mengungkapkan gagasan atau ide dari pengalaman batin yang dikemas dengan nilai-nilai estetika. Ungkapan ini sebagai  pembuka dari tinjauan ataupun uraian dari karya yang satu ini.

Karya lukisan ini berjudul: "Dendam Dari Neraka Ke Tujuh" yang akan kita bahas untuk kesempatankali ini. Karya ini tergolong dalam kategori  karya tiga dimensional kalau kita lihat dari segi bentuknya dan mendekati jenis karya jenis instalasi, walupun masih dalam wilayah karya seni lukis yang pemajangannya masih dengan pola dengan cara digantungkan pada dinding tembok atau sebuah dinding. Mengenai  data selengkapnya dari karya ini adalah sebagai berikut.

Judul    : Dendam Dari Neraka Ke Tujuh
Ukuran : 222cm x 90cm
Media   : Mixed Media (media campuran)
Tahun   : 2001

Sumber dari gagasan terciptanya karya yang agak menyeramkan ini berangngkat dari ungkapan rasa yang sarat rasa dendam yang pasti sangatlah menggganggu atau bersifat  negatif, dan alangkah baiknya bila bisa dimunculkan dalam bentuk yang lebih positif dan berguna dalam  bentuk  karya seni. Karena saya berkeyakinan seni bukan penyebab suatu masalah, tetapi seni itu hadir sebagai  bentuk solusi dari masalah.

Apa saja bahan-bahan dari karya ini?
Ya seperti biiasa bahan-bahan yang saya gunakan pada karya lukisan ini hampir sama dengan karya-karya llain yang telah kita bahas pada halaman sebelumnya. Bahan atau material yang dipakai tetap mengacu pada pemaanfaatan benda atau barang bekas yang sudah tak terpakai kita kemas menjadi barang yang mempunyai status nilai baru, yaitu menjadi sebuah bentuk karya seni lukis. Seperti yang terlihat pada foto, pada bagian-bagian karya ini bisa kita meraba sepintas bahan atau material yang digunakan. Seperti papan kayu, kain kanvas, tali tambang, bekas dari suku cadang kendaran yang tak terpakai dan lain-lain.

Bagimana prosesnya?
Jadi pada awal kita merangkai semua elemen benda-benda yang sudah ada, dengan cara di paku ataupun dengan cara dibor dikasih baut biar lebih kuat menempel, ada juga dengan cara dilem. Tekstur dari campuran lem dengan serbuk kayu dan tekstur dari campuran lem dengan kertas dipakai untuk membentuk karakter permukaan karya, juga untuk menciptakan elemen seperti kuku,mata juga bentuk detail dari wujud objek. Setelah terbentuk barulah tahap pengecatan  dasar yaitu dengan warna putih pada bagian unsur yang mau kita terapkan warna.

Proses yang berikutnya baru pada sesi pewarnaan pada bagian-bagian objek lukisan biar semua benda atau unsur pendukung biasa selaras, dengan catatan saya tidak menghilangkan beberapa karakter asli dari bahan-bahan tersebut, seperti warna dari logam dan juga warana cata bawaannya.Kenapa seperti itu?... jawabannya: kita melukis menggunakan barang-barang bekas artinya bukan melukisi barang-barang bekas tersebut, sayang sekali apabila karakter aslinya hilang, jadi rugi dong kita menggunaan bahan pilihan dengan karakter khas dan istimewa dari masing-masing benda itu dihilangin, karena saya berpendapat kesuksesan dalam melukis dengan banyak karakter bahan atau disebut tehknik kolase yaitu di mana kita bisa dengan cerdas mengkombinasikan atau memadukan unsur yang berbeda dalam sebuah karya. Sebab semua-bahan dengan unsur yang majemuk akan berbicara banyak tentang jalan panjang tentang pencarian kita hingga bermuara pada kelahiran dari sebuah karya seni.

Untuk akhir dari uraian karya lukisan "Dendam Dari Neraka Ke Tujuh" ini saya berkesimpulan energi negatif bisa bisa kita ubah sepenuhnya  menjadi energi yang positif dengan cara menuangkannya ke media seni. Nah dengan demikian  cukup sammpai di sini dulu ulasan karya dari blog Wayan Danu yang tentu akan hadir dalam memaparkan setiap karya yang menjadi koleksi dari blog ini, sampai ketemu pada karya yang  berikutnya, terima kasih atas kunjungannya  dan selamat berkarya.

Tabanan, 29 Juli 2019
Wayan Danu

Read More

Monday, July 01, 2019

Monolog Antara Pikir Dan Rasa

                 Selamat berjumpa lagi sobat google di blog Wayan Danu, tentunya selalu tentang tinjaun karya seni lukis bisa juga dibilang semacam tutorial proses terciptanya sebuah karya.  Nah untuk itu sekarang saya akan memperkenalkan lagi sebuah  karya lukisan dengan warna hitam dan putih dengan kategori dua dimensional yang berjudul "Monolog Antara Pikir Dan Rasa"

Dalam adegan figur menampilkan sosok seorang laki-laki sedang duduk di kursi malas dengan raut wajahnya menyiratkan  banyak masalah atau persoalan hidup yang menimpanya, seolah-olah semua masalahnya saling beradu di kepalanya. Dan terjadilah sebuah monolog antara pikiran dan perasaannya dalam mencari jawaban dari persoalan menyiksa batinnya.

Dalam  adegan gambar di atas saya menambahkan banyak unsur di sekeliling objek  utama dengan ornamen/penggambaran bentuk ataupun wujud terkadang tidak saling berhubungan dan terkesan begitu liar, juga membingungkan. Hal itulah yang saya pakai dalam bahasa ungkap dalam menggambarkan rasa galau yang mendera dalam karya lukisan "Monolog Antara Pikir Dan Rasa"ini.

Dalam proses pembuatan karya lukisan di atas hampir sama sama dengan karya-karya yang telah saya tulis sebelumnya, seperti masalah teknik dan bahan. Dari segi bahan seperti biasanya saya media campuran (mixed media), yaitu memakai banyak unsur bahan yang saya kombinasikan untuk menghasilkan sebuah karya. Adapun elemen dari unsur itu bisa kita lihat bersama dalam karya ini, seperti bekas ban vespa, palu yang tak terpakai, bintang dari plat logam dan bekas dari kabel elektronik. Dan sebagi pengganti kanvas saya menggunakan papan triplek yang buat seperti halnya kanvas agar lebih mudah untuk menempel bagian-bagian elemen yang akan ditempel dengan cara di baut biar kuat menempel. Dan catatan fisik dari karya ini sebagai berikut:

Judul      : Monolog Antara Pikir Dan Rasa
Ukuran  : 120cm x 120cm
Media    : Mixed Media (media campuran)
Tahun    : 2009

Karya Monolog Antara Pikir Dan Rasa ini dalam visual bentuk/figur yang hadir lebih besifat sketsa warna hitam putih, dengan bayangan gelap terang seadanya juga dengan penammpilan bentuk-bentuk yang sederhana pula. Saya rasa dengan  bentuk coretan sederhana yang spontanitas bagi saya akan lebih mendapatkan karakter dari  visi dan misi karya ini.

Dalam karya ini saya sebagai  kreatornya mendapat kesempatan atau sebagi peran peran langsung untuk menuangkan segala bentuk kegelisahan pribadi melakukan renungan atau berkontenplasi langsung ke dalam media, sebagai catatan dari rasa yang pernah menghinggapi  kehidupan saya. Dan penggambarannya lebih bersifat imajinatif terkadang hadir dalam bentuk majas hiperbola.

Sebagai catatan saya pribadi dalam hal berkarya tidak harus selalu menghadirkan hal-hal yang menghibur secara visual, artinya enak dipandang mata sehingga gampang dijual untuk mendapatkan finansial. Tetapi kita sekali-sekali boleh dong bersifat jujur pada diri sendiri tanpa tendensi hadir utuh sebagai pribadi yang apa adanya.

Nah sekian dulu ulasan saya dari karya lukisan di atas, dan jangan lupa lajutkan mengikuti ulasan karya-karya yang lainnya dalam blog Wayan Danu ini. Atas kunjungannya  tak lupa saya ucapkan banyak terimakasih dan selamat berkarya.

Tabanan, 1 Juli 2019
Wayan Danu

Read More

Thursday, May 16, 2019

Rimbunnya Pohon Mengkudu Di Belakang Dapur



Hai sahabat google di manapun kalian saat ini berada, selamat berjumpa kembali dengan blog Wayan Danu  yang tetap setia hadir untuk mengulas atau memaparkan karya-karya dari koleksinya. Dalam kesempatan kali ini tiba pada giliran karya dengan judul "Rimbunya Pohon Mengkudu Di Belakang Dapur". Karya ini sangat sederhana dalam visualisasinya, gambar rumah dengan latar belakang pohon Bengkudu yang daunnya rimbun, yang mengesankan kesejukan.

Kesederhanan dari tema sebagai pokok pemikiran, merupakan sesuatu hal yang berbeda, dalam hal mencari sudut pandang estetika dari sebuah ide. Terlahir dari rasa untuk kembali pada kemurnian diri lewat pengalaman yang bersifat batiniah dalam menonjolkan kepolosan dan kesederhanaan dari pola pikir, maka terciptalah karya lukisan dua dimensional yang objeknya cukup polos seperti alakadarnya.

Namun sepintas nampak sangat sederhana,  kelihatan mengabaikan teknik yang mutakhir. Kalau diteliti lebih dekat justru kita lebih tahu akan gestur dari karya yang satu ini, yang cukup mempertontonkan  teknik yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, terutama  tampilan dari sebuah foto.

Bagaimana dengan segi tenik dalam karya ini?
Ya untuk hal teknik karya ini saya bikin dari kanvas seperti lukisan pada umumnya, tapi ada sesuatu yang lain dalam karya ini. Kanvas dilapisi dari adonan serbuk gergajian yang bercampur lem pvac, diusapkan rata hingga menebal layaknya papan kayu yang tipis, selanjutnya diberi cat dasar pada permukaannya. Adapun bahan-bahan yang akan ditempel nanti untuk teknik kolase antara lain: papan kayu yang masih ada cat bekasnya, juga ada kabel bekas elektronik. Papan kayu tipis dipakai sebagai batang pohon, dan untuk membuat garis pembatas pada atap bagian bangunan rumah saya menempelkan kabel-kabel kecil untuk mengganti peran warna dari kuas, Bagi saya teknik ini mampu memberi rasa artistik yang berbeda.

kenapa begitu?
Penggunaan elemen dari kabel untuk menciptakan unsur garis yang utuh akan mendapatkan kesan kepolosan juga sepontanitas rasa. Pengaplikasian warna acrylic tetap dominan guna merangkai atau menjembatani antar elemen-elemen ke dalam bentuk kesatuan pada lukisan ini. Dan catatan data-data karya ini saya hadirkan sebagai berikut:

Judul     : Rimbunnya  Pohon Mengkudu Di Belakang Dapur
Ukuran : 50cm x 50cm
Media   : Mixed Media (media campuran)
Tahun   : 2015

Jadi hal penting bisa ditarik menjadi kesimpulan dalam uraian karya "Rimbunnya Pohon Mengkudu Di Belakang Dapur" ini, adalah usaha mencoba belajar menghargai sesuatu hal yang kecil ataupun yang kita anggap sepele. Sebab pada akhirnya kita akan terbangun dalam kesadaran arti sebuah kepolosan/kesederhanaan menyimpan sebuah gagasan yang mempunya nilai-nilai yang berbeda, maka dari itu semakin dekat kita memahami tentulah semakin banyak hal yang bisa kita gali. dalam kaitan untuk bereksplorasi pada ruang terbatas. Semoga uraian-uraian kali ini bisa memberikan pemahaman bagi pembaca sekalian, terima kasih dan selamat berkarya.

Tabanan, 9 Maret 2019
Wayan Danu


Read More

IN THE NAME OF ARTS

Recent Post

    Labels

    Blog Archive

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *

    Copyright © Wayan Danu | Powered by Blogger

    Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com